Jumat, 06 Juni 2014

TUGAS 7 SEMANTIK



Ayat Al-quran ( Allah menggunakan kata aku, kami)      
1. Surah Al-baqarah ayat 40.
            “Wahai Bani Israil ! “ Ingatlah nikmat Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja”.
Analisis Semantik : Bani Israil adalah keturunan nabi Yaqub a.s. yang sekarang dikanal dengan nama bangsa yahudi. Allah memperingatkan kepada mereka agar mengingat nikmat yang telah diberikan. Dimana diantara janji Bani Israil kepada Allah ialah hanya menyembah Allah, tidak mengadakan tandingan bagi Allah, serta beriman kepada nabi Muhammad saw, sebagaimana yang tersebut didalam taurat. Dalam ayat ini Allah menggunakan kata-kata Aku karena ayat ini hanya berisi perjanjian antara Allah dan kaum Bani israil tanpa melibatkan para malaikat.
2. Surah Al-baqarah ayat 51.
            “ Dan (ingatlah) ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam. Kemudian kamu (Bani Israil) menjadikan (patung) anak sapi ( sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang yang zalim.”
Analisis Semantik : dalam ayat ini empat puluh malam yang dijanjikan kepada Musa ialah suatu tenggang waktu yang dijanjikan Allah untuk menerima petunjuk (taurat); tetapi umat Nabi Musa a.s. tidak sabar menunggunya, sehingga mereka menyembah patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Pada ayat ini Allah menggunakan kata kami karena Allah tidak hanya bekerja sendiri. Dalam menurunkan petunjuk (taurat) Allah melibatkan malaikat jibril.
3. Surah Al- Ahzab ayat 9
            “ Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Analisis Semantik : Ayat ini berisi tentang pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman. Ayat ini menerangkan kisah Ahzab yaitu golongan-golongan yang dihancurkan dalam Perang Khandaq karena menentang Allah dan Rasul-Nya. Yang dimaksudkan dengan bala tentara yang tidak dapat kamu lihat ialah para malaikat yang sengaja didatangkan untuk menghancurkan musuh-musuh Allah itu. Dalam ayat ini Allah menggunakan kata Kami karena Allah tidak bekerja sendirian, tetapi dengan melibatkan malaikat-malaikat.
4. Surah Ali-Imran ayat 81
            “ Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Manakala Aku memberikan Kitab dan Hikmah kepadamu lalu datang kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamuniscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, “ Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu? “Mereka menjawab, kami setuju. “Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu.
Analisis Semantik : Ayat ini berisi perjanjian para nabi kepada Allah swt. Bahwa bilamana datang seorang rasul bernama Muhammad mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para umatnya. Dalam ayat ini Allah menggunakan kata Aku karena ini merupakan perjanjian Allah dan para nabi tanpa melibatkan malaikat-malaikatnya.

TUGAS 6 SEMANTIK



Buku pelajaran Bahasa Indonesia tentang Semantik
Didalam buku pelajaran bahasa dan sastra indonesia untuk kelas 2 SLTP edisi kedua karangan yudhistira terdapat pelajaran tentang makna seperti berikut ini :
A. Carilah makna kata yang dicetak miring berikut ini! Gunakan kamus jika mengalami kesulitan!
1. Sisanya yang 96 persen amat tandus dengan kehidupan.
2. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis bagi plankton.
3. Di daerah tropis orang dapat menyaksikan terbitnya matahari setiap hari.
4. Di daerah yang jauh di sebelah luar garis lintang utara dan lintang selatan, pada waktu puncak musim panas pun matahari hanya menembus 15 sampai 20 meter air lautan.
5. Hanya di lapisan terbatas itulah plankton dapat tumbuh subur.
6. Luasnya permukaan lautan itu sendiri hanyalah merupakan 4 persen dari seluruh volume airnya.
7. Konsentrasi kehidupan laut dekat daratan ini merupakan konsentrasi pembuangan samapah daratan.
8. Diperkirakan ada 20.000 spesies ikan, lebih dari 30.000 jenis kerang, dan segala macam udang di daerah tersebut.
9. Disitulah plankton berkesempatan menampung mineral yang dibawa oleh endapan-endapan dari muara sungai.
10. Ternyata, akhir-akhir ini di laut dangkal antara inggris dan daratan Eropa ditemukan tong-tong terbuka oleh arus laut.


Analisis Semantik :
Pada soal-soal diatas terdapat kata-kata bermakna yang terdapat didalam kamus. Maka kata tandus adalah tidak dapat ditumbuhi tanaman atau tumbuhan karena kekurangan zat hara (tt tanah); gersang; tidak subur; padang-; 2. habis sama sekali; tandas;. Makna kata fotosintesis adalah pemanfaatan energi acahaya matahari oleh tumbuhan berhijau daun atau bakteri untuk mengubah karbondioksida dan air menjadi karbohidrat. Makna kata tropis adalah beriklim panas. Makna kata garis lintang adalah garis khayal yang melingkari bumi, sejajar dengan garis khatulistiwa. Makna kata lapisan adalah susunan; deretan;bagian. Makna kata lautan adalah laut yang luas sekali; samudra. Makana kata konsentrasi adalah pemusatan perhatian atau pikiran pada suatu hal. Makna kata spesies adalah satuan dasar klasifikasi biologi;jenis. Makna kata  endapan-endapan adalah sesuatu yang bercampur dengan barang cair yang telah turun kebawah dan bertimbun didasar. Dan yang terakhir makna kata dangkal adalah tidak dalam (tt sungai dsb); tohor; cetek.
B. Selain pelajaran tentang makna diatas, di buku ini juga terdapat pelajaran yang berhubungan dengan semantik yaitu tentang Polisemi dan Homonim seperti berikut,
Polisemi berasal dari kata poly yang berarti banyak dan sema yang berarti tanda, arti. Polisemi berarti banyak arti. Jadi, kata polisemi ialah suatu kata yang mempunyai bermacam-macam arti, tetapi masih mempunyai kesamaan makna atau masih dalam satu kesatuan arti.
Bentuk polisemi sepintas mempunyai kemiripan dengan bentuk homonim. Namun, jika dicermati, kedua bentuk itu mempunyai perbedaan mendasar. Homonim ialah kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan. Dalam polisemi kita menghadapi suatu kata yang mempunyai banyak makna, sedangkan dalam homonim kita menghadapi dua kata atu lebih yang kebetulan mempunyai lafal dan ejaan yang sama. Perhatikan contoh berikut !
Bisa, v mampu (kuasa melakukan sesuatu); dapat;
bisa, n 1 zat racun yang dapat menyebabkan luka, busuk, atau mati; 2 ki sesuatu yang buruk, yang dapat merusak akhlak manusia atau masyarakat.
Pada contoh diatas, kedua kata bisa tesebut merupakan homonim. Sedangkan makna-makna yang terdapat pada kata bisa yang kedua mempunyai hubungan makna yang berpolisemi.

TUGAS 5 SEMANTIK



Analisis surah al-fatihah ayat ke 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
·         Analisis berlandaskan Al-qur’an : Jalan yang lurus yang dimaksudkan adalah jalan hidup yang benar, yang dapat membuat bahagia dunia dan akhirat.

·         Analisis berlandaskan Tafsir      :
1) Hidayah secara harfiah, berarti petunjuk yang dapat menyampaikan orang kepada yang dituju. Hidayah yang dimaksud disini, ialah petunjuk Allah.
Hidayah Allah kepada manusia, antara lain sebagai berikut:
            1. Hidayah Ilham.
   Hidayah ilham ini sudah ada pada anak-anak sejak ia mulai dilahirkan. Bilamana ia ingat      akan kebutuhannya (makanan misalnya), seketika itu juga ia menangis meminta makanan itu.
            2. Hidayah Panca-Indera.
  Hidayah panca-indera dan hidayah ilham keduanya sama ada pada manusia dan hewan. Bahkan pada hewan lebih peka, jika dibandingkan dengan manusia, sebab ilham dan panca-indera pada hewan sedikit sempurna setelah ia dilahirkan. Sedangkan pada manusia datangnya berangsur-angsur, tahap demi tahap.
            3. Hidayah Akal.
  Hidayah akal lebih tinggi fungsinya dari hidayah ilham dan panca-indera, sebab manusia diciptakan untuk hidup bersama dan bergaul dengan yang lain.

            4. Hidayah agama dan syari’at.
      Hidayah agama ini, adalah nilai-nilai yang wajib dipunyai oleh orang yang akalnya sudah diperbudak oleh hawa nafsunya, sehingga ia tenggelam dalam kesenangan materi dan syahwati.
·         Analisis surah al-fatihah berlandaskan Hadist : surah al-fatihah ini meskipun ringkas tetapi berisi kandungan yang tidak terdapat Analisis berlandaskan hadist : Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “surah al dalam surah al-quran lainnya. Surah ini mengandung 3 jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyyah, serta tauhid nama-nama dan sifat-sifat Allah. Juga mengandung penetapan kenabian Rasulullah saw, balasan amal perbuatan manusia pada hari pembalasan dengan seadil-adilnya. Demikian juga penetapan (iman kepada) takdir/ketetapan Allah, bantahan terhadap semua pelaku bid’ah dan pemahaman sesat, serta pemurniaan keikhlasan dalam beragama kepada Allah swt semata dengan hanya menyembah dan memohon pertolongan kepada-Nya, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

·         Analisis secara Semantik : dilihat dari segi semantik surah al-fatihah ayat 6 ini berisi tentang kami (manusia) yang meminta kepada Allah agar menunjuki jalan yang lurus yaitu dengan membukakan pintu hidayah. Dimana pintu hidayah itu hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang ia beri petunjuk. Jalan hidup yang benar adalah jalan hidup yang berada dalam ridho Allah. Jalan hidup seperti ini dapat kita lakukan dengan berbuat kebaikan yang akan membuat manusia bahagia didunia dan diakhirat. Karena dengan berbuat kebaikan dan menjahuhi larangan Allah maka hidup kita akan tenang. Jauh dari gangguan kejahatan .

ANALISIS UNSUR KLAUSA BERDASARKAN FUNGSI, KATEGORI, DAN PERAN DALAM SURAH AL-MAUN AYAT1-7



 ANALISIS UNSUR KLAUSA BERDASARKAN FUNGSI, KATEGORI, DAN PERAN  DALAM SURAH AL-MAUN AYAT1-7


 Dona Pransisca
                    VI B
              116211375


ABSTRAK
Tujuan dari penenlitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah analisis unsur klausa berdasarkan fungsi, kategori, dan peran dalam terjemahan al-Quran.  Pada penelitian ini dikhususkan untuk terjemahan al-Quran pada surah al-maun ayat 1-7. Hasil terjemahan al-Quran menawarkan sumber pembelajaran keterampilan menulis. Didalamnya dapat digali pola klausa, baik yang dominan maupun yang spesifik. Dengan struktur yang dominan, yakni SP (sebanyak 28), SPO (sebanyak 17), dan PS (sebanyak 7). Pada surah al-maun ayati 1-7 ditemukan klausa berpola subjek-predikat, klausa yang berkonjungsi subordinatif yang menyatakan pertalian makna akibat, klausa berkonjungsi + PSO, klausa lengkap yang berkonjungsi subordinatif akibat + PS, klausa yang diawali konjungsi subordinatif yang menyatakan makna penjelas, klausa berkonjungsi subordinatif Yang, dan klausa berkonjungsi + (S)Ppel.

Kata kunci : Analisis Unsur klausa, fungsi kategori dan peran

1. LATAR BELAKANG
            Manusia berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia melalui suatu perantara. Manusia mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan perasaan yang mereka miliki melalui bahasa. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer dan konvensional yang digunakan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan mengidentifikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Dengan demikian, bahasa dapat dikatakan sebagai alat yang dapat mengidentifikasi diri.
Ilmu yang mempelajari tentang tatabahasa disebut sintaksis. Sintaksis membicarakan hubungan antara kata dalam tuturan (speech). Unsur bahasa yang termasuk didalam lingkup sintaksis adalah frase, klausa, dan kalimat.
Menurut Abdul Chaer (2009:150) Klausa adalah satuan sintaksis yang bersifat predikatif. Artinya, didalam satuan atau konstruksi itu terdapat sebuah predikat, bila didalam satuan tidak terdapat predikat, maka satuan itu bukan sebuah klausa. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa predikat merupakan unsur yang sangat penting dalam sebuah klausa. Didalam sebuah klausa, kedudukan predikat dapat menentukan jenis dan kategorinya yang kemudian dapat pula menentukan hadirnya fungsi subjek, objek, pelengkap, keterangan, dan sebagainya. Berdasarkan kategori yang mengisi fungsi predikat itu dapat dibedakan menjadi klausa verbal, klausa nominal, klausa adjektival, klausa preposisional, dan klausa numeria.
Dari pengamatan terhadap bahasa indonesia, dapat disimpulkan bahwa S selalu terdiri dari kata atau frase yang termasuk kategori N. Berbeda dengan S yang selalu terdiri dari kata atau frase golongan N, P biasa terdiri dari kata atau frase yang termasuk dalam golongan N,V, Bil,ataupun FD. Fungsi O terdiri dari kata atau frase yang termasuk kategori N, sedangkan fungsi PEL terdiri dari kata atau frase yang termasuk kategori N, V, dan mungkin pula Bil. Sedangkan KET mungkin terdiri dari kata atau frase yang termasuk kategori Ket, mungkin terdiri dari FD, kata atau frase golongan N, dan kata atau frase golongan V.
Secara teoritis fungsi dan peran memiliki sifat relasional. Adanya fungsi yang satu menandakan fungsi yang lain atau mensyaratkan kehadiran fungsi lain. Jika fungsi lain tidak muncul, maka akan sulit untuk mennetukan fungsi yang disandangnya. Melalui analisis wacana, posisi struktur semacam itu lebih mudah untuk diidentifikasi karena melibatkan pengisi struktur, baik yang mendahului maupun yang muncul belakangan.
            Al-quran adalah kitab suci umat islam yang berisi petunjuk , perintah, ajakan, larangan, cerita dan berita oleh Allah swt kepada umat manusia yang digunakan sebagai pedoman dalam hidup. Al-quran merupakan salah satu media tertulis dengan menggunakan bahasa arab. Ayat-ayat dalam al-quran sangat kaya dan beragam sehingga terlihat menarik. Kalimat-kalimat didalamnya banyak mengandung pesan dari Allah swt.
Hasil identifikasi klausa yang terdapat pada teks terjemahan al-Quran dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok besar, yaitu klausa inti dan noninti.klausa inti adalah klausa yang tidak diawali dengan konjungsi dan unsur-unsurnya sekurang-kurangnya terdiri atas Subjek dan predikat. Klausa ini secara potensial dapat berdiri sendiri sebagai kalimat.berdasarkan urutannya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu klausa yang berurutan biasa dan klausa yang berurutan terbalik (inversi0. Sedangkan klausa noninti adalah klausa yang diawali dengan konjungsi. Karena diawali dengan konjungsi, klausa dalam teks terjemahan Quran tidak berdiri sendiri, walaupun ada kemungkinan jika konjungsi yang bersangkutan dihilangkan dapat berdiri sendiri sebagai klausa yang berdiri sendiri sebagai kalimat. Klausa ini teridentifikasi dari bagian terjemahan ayat-ayat al-Quran yang memiliki hubungan maknawi dengan klausa-klausa/kalimat, atau ayat lain. Berdasarkan konjungsi yang digunakan klausa ini bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni klausa yang diawali oleh konjungsi koordinatif dan klausa yang diawali oleh konjungsi subordinatif.
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur yang sejajar. Dalam kaitannya dengan klausa yang diawali dengan konjungsi koordinatif, konjungsi koordinatif yang dimaksud adalah konjungsi dan, atau, tetapi. Sedangkan klausa yang diawali oleh konjungsi subordinatif ini dapat ditemukan adanya klausa yang diawali oleh konjungsi subordinatif yang menyatakan waktu (berurutan, saat) syarat, pengandaian, sebab, akibat, kontradiktif, tujuan, harapan, penjelas, ketidakpastian (menggunakan konjungsi seakan-akan), perkecualian, modalitas, kosesif, dan konsekutif (menggunakan kata biarpun, kendatipun. Selain itu ditemukan juga klausa yang menggunakan konjungsi yang menyatakan pertalian makna kesungguhan, sapaan, dan perbandingan.
Hasil terjemahan al-Quran menawarkan sumber pembelajaran keterampilan menulis. Didalamnya dapat digali pola klausa, baik yang dominan maupun yang spesifik. Dengan struktur yang dominan, yakni SP (sebanyak 28), SPO (sebanyak 17), dan PS (sebanyak 7). Terjemahan Quran memberikan kemudahan memahami pola dasar bahasa indonesia. Bila dideskripsikan, pola klausa inti maupun noninti, selain pola dasar, jumlahnya melimpah yang masing-masing pola menunjukkan spesifikasi makna. Spesifikasi makna ditunjukkan oleh perbedaan karakteristik kategorial, perbedaan pola urutan, atau muncul tidaknya unsur kalimat dalam struktur klausa. Dengan demikian, terjemahan Quran menjadikan pembelajar mendapatkan kekayaan pola klausa yang amat penting difungsikan dalam berbagai peristiwa tutur. Terjemahan Quran telah mengakomodasi bentuk-bentuk unik dalam struktur gramatikal. Bentuk unik itu berpola Topik-Komen.
Analisis klausa berdasarkan kategori unsur-unsurnya adalah kegiatan menentukan termasuk fungsi, kategori, dan peran apakah suatu unsur dalam suatu klausa. Analisis kategori adalah analisis terhadap jenis kata atau atau kelas kata unsur-unsur pengisi fungsi tertentu dalam sebuah klausa (verhaar,1977). Dalam menganalisis klausa atas kategori unsur-unsurnya, kita dapat melakukan pembagian atas fungsi unsur-unsurnya terlebih dahulu. Selanjutnya, unsur-unsur yang mengelompok dalam satu fungsi yang sama ditentukan termasuk kategorinya. Analisis kategorial tidak dapat lepas dari analisis fungsional, bahkan merupakan lanjutan dari analisis fungsional.
Dalam melakukan analisis kategori yang perlu diingat adalah penentuan suatu unsur termasuk jenis kata apa atau termasuk kategori apa. Dalam hubungan dengan kategori ini ada beberapa penggolongan atau penentuan kategori kata yang berbeda-beda.
Klausa selain dapat dianalisis berdasarkan fungsi unsur-unsurnya, kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya, juga dapat dianalisis makna-maknanya. Namun dalam analisis ini lebih ditekankan pada analisis unsur klausa berdasarkan fungsi, kategori, dan peran khususnya dalam surah al-maun ayat 1-7. Untuk lebih jelasnya mengenai analisis terjemahan al-quran, maka pada bagian pembahasan berikut ini adalah analisis surah al-maun ayat 1 sampai 7.



2. PEMBAHASAN
1. Klausa Berpola Subjek-Predikat
(1:107) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ?
No. Data
Unsur Klausa
(1:107)
Tahukah
Kamu
(orang-orang)yang mendustakan agama
Fungsi

S
P
Kategori
Interogatif
N
FN
Peran
Tanya
Dikenal
Pengenal
            Data  diatas dinyatakan analisis fungsi, kategori, dan peran pada klausa berpola subjek-predikat. Unsur klausa “tahukah” mengisi kategori interogatif dan perann tanya. Unsur klausa “kamu”  mengisi fungsi subjek, kategori nomina, dan peran dikenal. Sedangkan “(orang-orang) yang mendustakan agama” mengisi fungsi predikat, kategori frase nomina, dan peran pengenal. Pasangan peran yang muncul pada pola klausa diatas berupa dikenal-pengenal.
            Klausa “tahukah” merupakan klausa tanya karena klausa tanya adalah klausa yang isinya menanyakan sesuatu kepada mitra tutur/mitra bicara (dalam bahasa lisan) atau pembaca (dalam bahasa tulis). Klausa ini secara tekstual ditandai oleh pemakaian kata tanya (interogatif).
Jika dilihat variasi strukturnya, variasi struktur fungsional klausa tanya terdiri atas struktur Tanya SP, tanya SPK, tanya SPO, tanya SPPel, tanya PS, dan tanya KSP. Pada klausa tanya ini terdapat struktur fungsional: tanya + SPPel, tanya + PS, tanya + SP, tanya + KSP, tanya + SPO, dan tanya + SPK. Pada pola + SPPel berpola kategorial interogatif + N+V +FN dan berpasangan peran: pertanyaan + pelaku + tindakan + penderita. Pada pola tanya + PS terdapat pola kategorial interogatif + FN + FP, interogatif + FV + FN, dan interogatif  + FN. Adapun pasangan perannya : pertanyaan + tindakan negatif + pederita, pertanyaan + keadaan + pengalam.
Klausa ini termasuk klausa yang berurutan biasa, yaitu klausa yang subjeknya terletak pada awal kalimat dan predikat dibelakang subjek. Klausa ini juga termasuk kedalam jenis klausa inti.

2. Klausa yang berkonjungsi subordinatif yang menyatakan pertalian makna akibat
(2:107) maka itulah orang yang menghardik anak yatim          
No. Data
Unsur Klausa
(2:107)
maka
Itulah
Orang yang menghardik anak yatim
Fungsi

S
P
Kategori
Konjungsi subord.
N
FN
Peran
Akibat
Dikenal
Pengenal
Data diatas, dinyatakan analisis fungsi, kategori, dan peran pada klausa lengkap yang berpola konjungsi subordinatif akibat + SP. Unsur klausa “maka” mengisi kategori konjungsi dan peran akibat. Unsur klausa “itulah” mengisi fungsi subjek, kategori nomina, dan peran dikenal. Sedangkan unsur klausa “orang yang menghardik anak yatim” mengisi fungsi predikat, kategori frase nomina, dan peran pengenal. Pasangan peran yang muncul pada pola klausa diatas adalah berupa dikenal-pengenal. Konjungsi yang dipakai pada klausa ini adalah maka, oleh karena itu, hingga, sehingga, dan sebagainya.
3. Klausa Berkonjungsi + PSO
(3:107) Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin
No. Data
Unsur Klausa
(3:107)
Dan
Tidak mendorong
Memberi makan
Orang miskin
Fungsi

P
S
O
Kategori
Konj. koord
FV
N
FN
Peran

Keadaan
Pelaku
Pengalam
            Data diatas dinyatakan analisis fungsi, kategori, dan peran pada klausa berkonjungsi + PSO. Unsur klausa “dan” merupakan konjungsi koordinatif. Unsur klausa “tidak mendorong” mengisi fungsi predikat, kategori frase verba, dan peran keadaan. Unsur klausa “memberi makan” mengisi fungsi subjek, kategori nomina, dan peran pelaku. Sedangkan unsur klausa “orang miskin” mengisi fungsi objek, kategori frase nomina, dan peran pengalam. Pasangan peran yang muncul pada pola klausa diatas berupa pelaku-pengalam. Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur yang sejajar. Konjungsi koordinatif yang dimaksud adalah dan, atau, tetapi. Klausa ini termasuk kedalam klausa inversi, yaitu klausa yang predikatnya berada dibelakang subjek.

4. Klausa lengkap yang berpola konjungsi subordinatif akibat + PS
(4:107) Maka celakalah orang yang salat
No. Data
Unsur klausa
(4:107)
Maka
celakalah
Orang yang salat
Fungsi

P
S
Kategori
Konjungsi subord
FN
FN
Peran
Akibat
Keadaan
Pengalam
            Data  diatas dinyatakan analisis fungsi, kategori, dan peran pada klausa lengkap yang berpola konjungsi subordinatif akibat + PS. Unsur klausa “maka” mengisi kategori konjungsi subordinatif, dan peran akibat. Unsur klausa “celakalah” mengisi fungsi predikat, kategori frase nomina, dan peran keadaan. Sedangkan unsur klausa “orang yang salat” mengisi fungsi subjek, kategori frase nomina, dan peran pengalam. Pasangan klausa yang muncul pada pola klausa diatas adalah keadaan-pengalam. Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua atau lebih klausa yang tidak memiliki status sintaksis yang sama. Konjungsi ini membentuk anak kalimat yang jika digabungkan dengan induk kalimat akan membentuk kalimat majemuk bertingkat. Klausa yang diawali konjungsi pertalian makna akibat ini, selain ditandai dengan penggunaan Maka, juga dapat digunakan oleh karena itu, hingga, dan sehingga.
5. klausa yang diawali konjungsi subordinatif yang menyatakan makna penjelas
(5:107) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya
No. Data
Unsur Klausa
(5:107)
(yaitu)
Orang-orang
Yang lalai terhadap salatnya
Fungsi

S
P
Kategori
Konjungsi subord
FN
V
Peran
Penjelas/jelasan
Pelaku
Perbuatan
            Data tabel diatas dinyatakan analisis fungsi, kategori, dan peran klausa yang diawali dengan konjungsi subordinatif yang menyatakan makna penjelas. Unsur klausa “ (yaitu)” mengisi kategori konjungsi subordinatif, dan peran penjelas/jelasan. Unsur klausa “orang-orang” mengisi fungsi subjek, kategori frase nomina, dan peran pelaku. Sedangkan unsur klausa “yang lalai terhadap salatnya” mengisi fungsi predikat, kategori verba, dan peran perbuatan. Pasangan klausa yang muncul pada pola klausa diatas berupa pelaku-perbuatan. Pada klausa yang diawali oleh konjungsi yang menyatakan makna penjelas ini juga digunakan konjungsi bahwa. Konjungsi ini menunjukkan hubungan antara klausa dengan klausa sebelumnya.
6. Klausa berkonjungsi subordinatif Yang
(6:107) yang berbuat riya
No. Data
Unsur Klausa
(6:107)
Yang
Berbuat riya
Fungsi
S
P
Kategori
FN
FN
Peran
Pengalam
Pelaku
            Data tabel diatas dinyatakan fungsi, kategori, dan peran klausa berkonjungsi subordinatif yang. Unsur klausa “yang” mengisi fungsi subjek, kategori frase nomina, dan peran pengalam. Sedangkan “berbuat riya” mengisi fungsi predikat, kategori frase nomina, dan peran pelaku. Pasangan klausa yang muncul pada data diatas adalah pengalam-pelaku. Klausa ini termasuk kedalam jenis klausa relatif, yaitu kalimat dasar yang menjadi kalimat pemandu daalm kalimat rumit, yang subjeknya berubah menjadi partikel yang. Hal ini dikarenakan partikel tersebut identik dengan sebuah FN dalam kalimat matriks. Apabila klausa relatif menerangkan sebuah FN subjek, biasanya juga mempunyai dua macam sifat, yaitu yang memberi suatu batasan pada FN itu dan yang hanya memberi keterangan tambahan.
7. Klausa berkonjungsi + (S)Ppel                      
(7:107) dan enggan (memberikan) bantuan
No. Data
Unsur Klausa
(7:107)
Dan
Enggan (memberikan)
Bantuan
Fungsi

(S) P
Pel
Kategori
Konjungsi koord
(N) FV
FN
Peran

(pengalam) keadaan
Penyerta
Data tabel diatas dinyatakan fungsi, kategori, dan peran klausa berkonjungsi + (S)Ppel. Unsur klausa “dan” mengisi kategori konjungsi subordinatif. Unsur klausa “ enggan (memberikan)” mengisi fungsi subjek predikat, kategori nomina frase verba, dan peran pengalam perbuatan. Sedangkan unsur klausa “bantuan” mengisi fungsi pelengkap, kategori frase nomina, dan peran penyerta. Secara fungsional, klausa berpola (S)Ppel, akan tetapi secara semantis, peran yang dibentuknya hanya (pengalam) keadaan. Pasangan peran yang muncul pada klausa diatas berupa (pengalam) keadaan-penyerta.
3. KESIMPULAN
Menurut Abdul Chaer (2009:150) Klausa adalah satuan sintaksis yang bersifat predikatif. Artinya, didalam satuan atau konstruksi itu terdapat sebuah predikat, bila didalam satuan tidak terdapat predikat, maka satuan itu bukan sebuah klausa. Berdasarkan kategori yang mengisi fungsi predikat itu dapat dibedakan menjadi klausa verbal, klausa nominal, klausa adjektival, klausa preposisional, dan klausa numerial. Hasil terjemahan al-Quran menawarkan sumber pembelajaran keterampilan menulis. Didalamnya dapat digali pola klausa, baik yang dominan maupun yang spesifik. Dengan struktur yang dominan, yakni SP (sebanyak 28), SPO (sebanyak 17), dan PS (sebanyak 7).
Salah satu manfaat analisis terjemahan Quran adalah menjadikan pembelajar mendapatkan kekayaan pola klausa yang amat penting difungsikan dalam berbagai peristiwa tutur. Terjemahan Quran telah mengakomodasi bentuk-bentuk unik dalam struktur gramatikal. Bentuk unik itu berpola Topik-Komen. Pada surah al-maun ayat 1-7 ditemukan klausa berpola subjek-predikat, klausa yang berkonjungsi subordinatif yang menyatakan pertalian makna akibat, klausa berkonjungsi + PSO, klausa lengkap yang berkonjungsi subordinatif akibat + PS, klausa yang diawali konjungsi subordinatif yang menyatakan makna penjelas, klausa berkonjungsi subordinatif Yang, dan klausa berkonjungsi + (S)Ppel.
Analisis klausa berdasarkan kategori unsur-unsurnya adalah kegiatan menentukan termasuk fungsi, kategori, dan peran apakah suatu unsur dalam suatu klausa. Dalam menganalisis klausa atas kategori unsur-unsurnya, kita dapat melakukan pembagian atas fungsi unsur-unsurnya terlebih dahulu. Selanjutnya, unsur-unsur yang mengelompok dalam satu fungsi yang sama ditentukan termasuk kategorinya.
Klausa “tahukah” merupakan klausa tanya karena klausa tanya adalah klausa yang isinya menanyakan sesuatu kepada mitra tutur/mitra bicara (dalam bahasa lisan) atau pembaca (dalam bahasa tulis). Klausa ini secara tekstual ditandai oleh pemakaian kata tanya (interogatif). Unsur klausa “maka” mengisi kategori konjungsi dan peran akibat.
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur yang sejajar. Konjungsi koordinatif yang dimaksud adalah dan, atau, tetapi. Klausa ini termasuk kedalam klausa inversi, yaitu klausa yang predikatnya berada dibelakang subjek.
klausa relatif adalah kalimat dasar yang menjadi kalimat pemandu dalam kalimat rumit, yang subjeknya berubah menjadi partikel yang. Hal ini dikarenakan partikel tersebut identik dengan sebuah FN dalam kalimat matriks. Apabila klausa relatif menerangkan sebuah FN subjek, biasanya juga mempunyai dua macam sifat, yaitu yang memberi suatu batasan pada FN itu dan yang hanya memberi keterangan tambahan.


DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta : Rineka Cipta
Chaer, Abdul, 2010. Sintaksis 2 Keselarasan Fungsi, Kategori, & Peran dalam Klausa. Surakarta : Universitas Muhammadiyah.